Peraturan sekolah dan kedisiplinan
Posted by kratonsolo pada Mei 25, 2010
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercay a term
asuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan men j a di tanggung jawab.
Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain.
Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting.
Demikian hal-nya disekolah.DISIPLIN DAN TATA TERTIB SEKOLAH merupakan pedoman bagi sekolah untuk menciptakan susana sekolah yang aman dan tertib sehingga akan terhindar dari kejadian-kejadian yang bersifat negatif.Namun demikian peraturan disekolah haruslah tetap masuk akal.Sebagai contoh SMA di jepang tidak mewajibkan siswa berseragam namun tidak diperkenankan memakai aksesoris apapun.
Beberapa peraturan yang terdengar lucu adalah : rambut tidak boleh di-pam, di-punk, atau bergaya rambut Don king atau gaya rambut yang aneh. Wanita tidak boleh mengenakan sepatu berhak atau sepatu yang berbunyi ketika dipakai berjalan. Laki-laki tidak boleh memakai anting. HP tidak boleh dinyalakan ketika belajar.
Aturan-aturan itu mungkin sedikit aneh bagi beberapa sekolah yang mewajibkan seragam. Tapi bagi SMA di Jepang aturan itu perlu dibuat karena siswa bebas memakai pakaian sopan apa saja ke sekolah. Ketika pertama kali diterapkan,mugkin banyak siswa yang menentang. Tapi Pak Ichikawa(salah satu guru SMA di Jepang punya resep agar anak-anak mau mengikuti peraturan sekolah. Intinya beliau mengajak anak-anak yang menentang untuk berdialog, dan menanyai mereka alasan penentangan plus menjelaskan kenapa rambut tak boleh di-pam atau sepatu tak boleh berbunyi.
Ya, rambut yang di-pam memang tak perlu disisir (kalau disisir, pam-nya rusak-red). Anak-anak yang mempunyai rambut gaya pam, selalu disibukkan dengan memegang-megang rambutnya agar membentuk gelombang (pam), dan ini seringkali mengganggu konsentrasi mereka. Satu lagi, biayanya mahal (di Nagoya, sekitar 7 ribu yen).
Lalu kenapa tak boleh memakai sepatu berhak ? Karena sepatu berhak bising ! Bunyinya ‘urusai’ (ribut) kata orang Jepang. Saya paling tak suka jika berjalan di stasiun ketika menuruni tangga berpapasan dengan gadis-gadis Jepang yang memakai sepatu berhak dan berbunyi tak-tak-tak atau tuk-tuk-tuk. Mereka sepertinya menikmati sekali bunyi itu, sebab selalu saja mereka berlari dan tak berusaha berjalan pelan-pelan agar suara bisa diredam. Sedangkan telinga saya hampir pekak rasanya !
Peraturan di sekolah harus merupakan sesuatu yang masuk akal ! Pak Ichikawa mengatakan anak-anak SMA adalah orang dewasa yang masih mature tapi bisa memahami istilah “jama” (= mengganggu).Maksudnya, peraturan dibuat agar orang lain tak merasa terganggu.Dan anak-anak pun dibiasakan berfikir mengapa mereka tak boleh begini tak boleh begitu, sebab orang lain akan terganggu.
Referensi :
http ://id.wikipedia.org
http://murniramli.wordpress.com
http://tarmizi.wordpress.com
http://rifalpradana.wordpress.com



cobaberbagi berkata
Disiplin merupakan salah satu kunci keberhasilan